Akhirnya, Fitness Juga….

Ya begitulah, akhirnya saya ’menyerah’ dengan keadaan kalau sepertinya saya butuh olah raga lebih ’ekstrim’ untuk menghilangkan lemak di perut, paha, tangan semua bagian tubuh yang besar. Setelah sebelumnya nyoba jogging n diet yang hasilnya gak banyak.

Ok deh, sepertinya saya butuh bantuan untuk menjadi sehat. Akhirnya saya setuju untuk membuat janji ketemu dengan Mbak Sales yang sudah ’sejuta’ kali menghubungi saya. You go girl! Tabah sekali mbak yang satu ini, walaupun sudah saya tolak tapi tetep aja nelpon

Continue reading

10 Things About Me

I wrote it for fun and dare you, my blog reader, to do the same ;)

  1. I adore my family.
  2. I feel relax and comfy when I surrounded with books. No, I am not a geek with a thick glasses. As the matter of fact, I don’t use glasses. Thanks to mom and carrots.
  3. I am addicted in writing. I feed my brain with books and writing. It will ruins my day if I couldn’t split it out my imagination or fantasy to paper or anything. I write everyday
  4. I am a sleep-walker. I sleep with mind wandering. I even create story on my dream. So, I will awake and write it down on  paper.
  5. I am easily get touch with someone’s sad story. I saw it as my weakness at first but I thought this is a gift from God. The ability to listen and sincere interested to whatever they say.
  6. I am a procrastinate. I am not proud of it, I swear. It’s really humiliated.
  7. I love my best friends. They are not much but I pampered our friendship.
  8. I like animal as long as they stay in a distance
  9. I hate back-stabber and lick-axx. I will hunt them down if they did it to me.
  10. I am addicted acute to internet and computer’s technology.

Tenang, Nggak Ada yang ‘Mati’ di Sinetron!

Mama dan kursi ‘Cleopatra’ kesayangannya.

Mama saya pecinta sinetron. Dari jam 5 sore, beliau sudah duduk di depan TV nonton sinetron secara maraton sampai jam 10 malam. Saluran TV nggak boleh diganggu gugat. Ada yang berani merubah saluran, mama langsung ngomel. Walaupun hanya sebentar saat iklan. Biasanya sih saya sering curi-curi ganti saluran saat mama sedang di kamar mandi. Soalnya untuk mengganti saluran Indovision di dalam kamar, harus melalui TV utama.

Sebuah kursi panjang ala Cleopatra tersedia buat mama. Beliau akan baring di sana, memegang remote dan menonton dengan santai. Sambil sesekali ikut melempar komentar tentang jalan cerita. Kadang ikut marah dan memaki si jahat. Kadang terlihat sedih saat si tokoh tertimpa musibah (lagi). Soalnya, mama nggak cuma sekadar nonton sinetron tapi juga melibatkan emosinya.

”Ceritanya bagus!” kata mama suatu malam. Continue reading

Hang on there…!

Seorang sahabat tercinta, duduk di depan saya. Matanya menyiratkan luka dan kesedihan mendalam. Wajahnya lesu. Tatapannya menerawang. Sesekali ia menarik nafas dalam. Menghembuskannya dengan kencang. Dadanya naik turun. Sebuah gejolak besar dan hebat sedang berkecamuk di tubuhnya. Bahunya membungkuk. Sebuah masalah besar sedang ia hadapi. Cobaan yang harus ia lewati. Suaminya selingkuh.

Ia memilih untuk bertahan. Bertahan dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Seperti seorang tentara perang yang tetap mempertahankan wilayahnya walaupun tubuhnya sudah compang-camping karena tembakan. Atau, seperti seorang nelayan yang bersikeras mencari ikan di tengah ombak lautan yang menggunung. Ia bertahan. Memegang pada satu-satunya hal yang harus dijaga, dua anaknya yang masih kecil.

Jika tubuhnya adalah kapal yang bocor, maka ia berusaha keras menambal satu lubang di kapal. Sayangnya, saat ia fokus menutup satu lubang, orang-orang yang dicintai dan dihormati, malah membuat lubang baru. Satu lubang baru. Dua lubang baru. Terus saja hingga ’kapalnya’ berlubang di sana-sini. Ia pun hampir ’karam’. Dengan sekuat tenaga yang dimiliki, ia tutup semua lubang-lubang. Ia pun kelelahan. Ia ingin menyerah. Ia menangis.

Saya mendengar semua kata yang meluncur dari mulutnya. Masih ada sisa ketegaran dibalik ceritanya. Karena, sahabat yang saya kenal ini adalah perempuan tegar dan kuat. Ia adalah batu karang. Tapi bukankah sebuah batu karang sekalipun semakin lama semakin terkikis oleh deburan ombak?

Ah, sahabatku. Bertahanlah. Semua masalah akan terlewati dan you will be ok. I promise!

*dedicated to my very best friend. Be strong, hon!”

Pake Telepati, Bisa?

Teman saya punya kebiasaan buruk. Selingkuh. Efeknya bukan Cuma dia yang kerepotan tapi temen-temennya juga ikut repot nyimpen rahasia. Ini salah satu chat saya dengan dia di YM. Nggak ada solusi selain membuat saya pusing.

Saya(A) : Istri loe jadi pesen kue gak?

Mr. M : Jadi, jadi…nanti gw tanyain lagi deh.

A : Minta nomor HP istri loe aja, biar gue tanya sendiri.

M : Jangan…jangan…Nanti loe ngomong macem-macem.

A : Nggaklah! Cuma mau nanya soal kue.

M : Bener ya?! Ini nomernya 083710828942

A : Ok, nanti gue telepon.

M : Nanti jangan kasih tau dia kalo gue punya nomor Esia ya

A : Heh? Ok, nanti gue bilang, kita ngobrol di FB

M : JANGAN! Nanti dia kira gue aktif di FB.

A : Ya udah, nanti gue bilang kalau kita ngobrol di YM

M : JANGAN! Dia gak tauk, gue punya YM.

A : Ya ampun! Ok, pokoknya nanti gue kirim aja deh daftar harganya ke email biasa ya?

M : JANGAN! Email kantor aja ini mr.M@kantor.com. Nanti dia tauk gue punya email lain…

A : ……Ya udah loe aja deh yang nawarin ke istri loe.

M : Kan tadi gue dah bilang

A : *dezzzzzzzigggg*

Jualan Yuk…

Saya selalu membatasi diri dengan mengatakan,”saya nggak bisa jualan!”. Kata-kata itu seperti dipancang keras dalam kepala saya. Saya pun ’manut’ dan tidak pernah terlintas untuk berjualan apapun sampai suatu hari saya disodorkan sebuah tantangan baru: jualan mie kocok. Tantangan menggairahkan sekaligus menyeramkan. Bak menonton film horror, takut tapi tetap menonton hingga selesai.

Suami semangat 45, saya tetap ragu melangkah. Apalagi saat rupiah demi rupiah dari tabungan kami berpindah tangan untuk menyewa tempat, membeli bahan makanan, dan membeli peralatan masak. Saya makin gemetar, saat penjualan di bulan pertama tidak menutupi gaji pegawai. Uang tabungan pun dikuras kembali.

”Sudah kecebur, jangan berhenti. Tanggung!” Itu kata suami berulang-ulang saat saya mengatakan menyerah. Jualan bukan saya banget! Jawab saya.

Tapi bukankah hidup itu adalah tantangan? Bukankah hidup akan semakin meriah jika ada tantangan? Lalu, kenapa saya mudah sekali menyerah di bulan ke dua berjualan? Seorang sahabat yang tinggal di belahan dunia lain mengatakan,”you are too long in a comfort zone, get your axx outta here!Feel the ecstasy of life!”. Saya seperti tersadar.

Saya pun mulai bersemangat. Ternyata memang menyenangkan saat kita ikhlas mengerjakan sesuatu. Rasanya beda. Dan, ternyata juga saya bisa jualan! Berarti pikiran saya kalau saya nggak bisa jualan itu, salah besar. Saya bisa karena saya mau.

Mie Kocok Haraneut, itulah nama usaha saya. Belum bisa dianggap sukses tapi tetap bergerak maju. Perlahan tapi pasti. Saya dan suami pun mulai memberanikan diri mengembangkan usaha dengan membeli gerobak mie. Selain memudahkan pegawai kami bekerja, gerobak itu juga sebagai ajang promosi. Ketika tutup panci dibuka, aroma kuah mie kocok langsung menyerang perut lapar. Kami juga nekat beli kulkas minuman ringan karena saya yakin, investasi minuman ringan tidak akan hangus.

Ternyata jualan itu menyenangkan. Saya jadi ketagihan. Sehingga ajakan beberapa teman untuk gabung dalam bisnis jualan pun saya iyakan dari mulai bisnis catering n snack, event organizer sampai ke jualan pulsa. Semuanya masih masih embryo tapi jika tidak dicoba, kita tidak pernah tahu hasilnya.

Lagian, sepertinya enak juga jadi bos dari usaha sendiri, bosan juga jadi anak buah terus….

The Come Back!

Sepertinya hasrat saya untuk menulis kian membludak dan tumpah ruah kemana-mana. Rutinitas yang membosankan membuat saya khawatir akan terjadinya dehidrasi kreatifitas. Membayangkannya saja, mengerikan. Apalagi jika itu benar-benar terjadi. Saya merinding.

I think back to update my blog is not a bad idea after all….