Resign…kerja…resign…kerja…sudahlah!

Bekerja adalah pilihan saya. Sama halnya seperti saat saya memilih seorang pria untuk menjadi sahabat dan pasangan hidup. Memilih untuk menikah. Memilih untuk punya anak. Bekerja adalah pilihan pribadi saya yang telah dipikirkan masak-masak tanpa ada paksaan dari manapun. Lalu, bagaimana jika semua pilihan saya ’berteriak’ minta diperhatikan? Bukankan mereka adalah ’hasil’ pilihan saya yang harus dipertanggung-jawabkan?

Dilema itu pun datang menganggu….Kerja…resign…kerja…resign…kerja…resign….

”Gue pengin resign!” keluh seorang sahabat ”Anak gue udah protes!” tambahnya dengan muka sedih.
“Sama,” jawab saya nggak kalah sedihnya.
”Tapi kalau resign, gimana ya? Selama ini, kita kan ikut bantu suami” tambahnya berusaha mencari pembenaran atas sikapnya.
”Gue mau beli rumah. Cicilannya kan lumayan. Kalau resign, bisa bengek gue. Punya rumah tapi nggak punya duit buat makan…” kata saya ketawa miris

Pembicaraan yang tidak akan ada habisnya. Seperti sebuah lingkaran dan selalu berakhir ke titik awal. Tidak akan resign dan tetap bekerja. Lalu, menjalani hari-hari seperti semua. Mengeluh karena rindu pada anak. Berucap syukur setiap awal bulan karena sudah bisa membantu meringankan beban suami.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s