Monthly Archives: May 2010

WEDDING’S FIGHTER

Judulnya agak serem ya? Agak-agak dramatis. Tapi ini judul paling pas buat pengalaman saya di salah satu pesta perkawinan megah yang saya hadiri malam minggu lalu. Pesta perkawinan jor-joran yang diadakan di salah satu ballroom convention centre.

Pestanya berjalan lancar. Sang pasangan pengantin berjalan anggun masuk ke dalam gedung. Gaun the bride dibuat elegan gabungan barat dan timur yang menjulang panjang di belakangnya. Dibiarkan menyeret lantai yang dipenuhi bunga mawar. The Groom dengan pakaian ala Timur yang gagah. Para tamu yang berdiri tenang dan berdecak kagum dengan penampilan pengantin.

Pestanya cukup hikmat….untuk 15 menit pertama!

Wedding is not all about the bride and the groom but it’s also about a ‘WAR’

Setelah upacara seremonial kelar nih. Tamu-tamu yang awalnya berdiri anggun dan tenang berubah jadi beringas. Mereka mulai berebut untuk salaman dengan pengantin. Serobot dengan galak tanpa pandang usia yang diserobot. Mengerahkan semua tenaga HANYA untuk mengucapkan selamat. PLEASE DEH!

Sesudah itu, ’kerusuhan’ berpindah ke antrian makan, baik di meja makanan utama atau di stand-stand makanan camilan (which is..it’s not really camilan. Kambing guling is not camilan!). Menyerobot tanpa malu. Menyikut. Menginjak kaki (with high-heel). Apapun dilakukan agar bisa MAKAN dan tidak kehabisan! Tidak Cuma itu, beberapa tamu malah sengaja mengambil dalam porsi besar sehingga piring kecilnya penuh hingga hampir tumpah.

Ok, we are all hungry but…BEHAVE!

Fenomena berebut makan di pesta tidak hanya saya alami di pesta ini. Kalian juga pasti pernah kan ngerasain? Mau jaim? Nggak makan coy...!Mau berebut? Malu sama kebaya…

Rebutan makanan ini bukan karena si empunya pesta kurang menyediakan makanan. Malah kadang ada yang berlebih. Ini Cuma masalah mental kebanyakan orang, mental takut kehabisan! Mental makan gratisan. (Apa ada hubungannya dengan mental negara terjajah? 350 taun gitu loh…). They were not a bunch of poor who didn’t touch food for years! Grrr……

Ayolah, sedikit beretika. Nggak perlu berebut. Ini pesta pernikahan yang seharusnya berlangsung gembira dan tenang. Bukan menjadi ajang rebutan makan gratisan. Kasian yang punya pesta. Kasian juga para tamu yang usia lanjut. Kebanyakan dari mereka tidak kebagian makanan karena tidak sanggup berebut.

Memang, kalau urusan lapar dan gratis, nggak kaya or miskin….sama aja!

Resign…kerja…resign…kerja…sudahlah!

Bekerja adalah pilihan saya. Sama halnya seperti saat saya memilih seorang pria untuk menjadi sahabat dan pasangan hidup. Memilih untuk menikah. Memilih untuk punya anak. Bekerja adalah pilihan pribadi saya yang telah dipikirkan masak-masak tanpa ada paksaan dari manapun. Lalu, bagaimana jika semua pilihan saya ’berteriak’ minta diperhatikan? Bukankan mereka adalah ’hasil’ pilihan saya yang harus dipertanggung-jawabkan?

Dilema itu pun datang menganggu….Kerja…resign…kerja…resign…kerja…resign….

”Gue pengin resign!” keluh seorang sahabat ”Anak gue udah protes!” tambahnya dengan muka sedih.
“Sama,” jawab saya nggak kalah sedihnya.
”Tapi kalau resign, gimana ya? Selama ini, kita kan ikut bantu suami” tambahnya berusaha mencari pembenaran atas sikapnya.
”Gue mau beli rumah. Cicilannya kan lumayan. Kalau resign, bisa bengek gue. Punya rumah tapi nggak punya duit buat makan…” kata saya ketawa miris

Pembicaraan yang tidak akan ada habisnya. Seperti sebuah lingkaran dan selalu berakhir ke titik awal. Tidak akan resign dan tetap bekerja. Lalu, menjalani hari-hari seperti semua. Mengeluh karena rindu pada anak. Berucap syukur setiap awal bulan karena sudah bisa membantu meringankan beban suami.

Tanya ke Badan Sensor, yuk?

“Ma, kenapa jadi ribut sih soal film (Cowboy’s in Paradise)?”
“Soalnya filmnya gak bener”
“Nggak bener, gimana?”
”Isi filmnya yang jelek-jelek tentang Bali.”
”Jelek-jelek gimana?”
”Mmm..cerita soal cowok-cowok Bali yang suka pacaran”
”Pacaran gimana? Kenapa emangnya kalo pacaran?”
”Kan, pacarannya sama banyak cewek.”
”Apa hubungannya sama Bali?”
”Karena itu cowok-cowok Bali.”
”Trus, kenapa marah? Cuma pacaran aja, kok orang Bali marah-marah.”
”Soalnya itu gak bener.”
”Gara-gara mereka disebut gigolo? Gigolo itu apa?
”….eerrr….”
”Cowok yang banyak pacarnya ya ma?”
“Iya…iya…”
“Padahal cowoknya juga jelek-jelek ya ma?”
”He-eh..”